Berpikir Logis dalam Bisnis, Perlukah?

Pentingnya Berpikir Logis

Tadi siang, saya menerima calon klien dari Padang Sumatera Barat, yang ingin membuka usaha pabrik kelapa sawit. Mereka mencari funder atau investor untuk usaha mereka.

Rencana mereka adalah membangun pabrik kelapa sawit dan membeli puluhan hektar lahan, yang total biayanya Rp500 miliar; Rp350 Miliar untuk membangun pabrik kepala sawit, Rp150 Miliar untuk membeli lahan kelapa sawit.

Mereka menyajikan proposal yang tebalnya hampir 2.5. centi meter. Lokasi pabrik yang mau dibangun ada di  Bengkulu, kira-kira 6 jam dari Padang kalau naik mobil.

Saya langsung menanya beberapa pertanyaan, yang menjadi filter apakah ada funder yang dapat mendanai proyek itu atau tidak. Pertama, saya tanya nominal proyek.

Kemudian saya tanya apakah perizinan sudah di tangan. Jabawan mereka bahw perizinan sudah ada, tetapi ada beberapa perizinan yang perlu diperbaharui. Izin mendirikan bangunan untuk pabrik masih berlaku.

Berpikir Logis Mulai dari Konsep-Awal Bisnis

Mereka menyajikan perhitungan ekonomis dari proyek tersebut, tetapi saya minta fokus bahas yang makro saja. Saya tanya apakah mereka punya dana atau tidak.

Pertama, apakah ada dana 30%? Salah satu funder membutuhkan dana 30% dari mitra dan funder menyedikan dana 70%. Mereka menjawab 'tidak ada.'

Saya tanya lagi apakah ada dana 3%? Funder kedua mempersyaratkan ada dana 3% untuk sewa kolateral. Mereka jawab, 'tidak ada.' Bagaimana kalau dana 2%? Lagi-lagi jawaban mereka tidak ada. Apakah ada dana satu persen? Juga tidak ada.

Saya mulai gemas sambil tersenyum. Lagi-lagi saya bertemu calon klien yang hanya bisa bermimpi. Ingin memulai proyek Rp500 Miliar, tetapi tak punya modal 1% pun. Bagaimana mungkin? Berpikir logis tersisih.

Yang datang adalah CEO sebuah perusahaan konstruksi yang biasa membangun pabrik kelapa sawit. Temannya konsultan yang sudah biasa membuat proposal pembangunan pabrik kelapa sawit.

CEO menyebut beberapa kelapa sawit yang sudah dibangun di Sumatera Barat, Lampung, Riau, dan Kalimantan. Saya asumsikan ia Sarjana Teknik melihat kompetensinya bisa membangun pabrik.

Namun, saya penasaran kok pikiran logis tidak dipakai dalam membangun pabrik kelapa sawit. Apakah logis membangun pabrik ratusan miliar tanpa modal? Di mana akal sehatnya?

Hanya ada satu funder yang mungkin yang bisa mendanai proyek mereka. Saya berterus terang dan katakan hanya ada satu potential funder untuk proyek ini.

Funder ini mempersyaratkan 2% dana di rekening dengan skema investor ada dalam akte; funder jadi pemegang saham. Namun, saya kasih catatan bahwa sebaiknya ada dana 2%.

Hampir dua jam kami membicarakan proyek pembangunan pabrik kelapa sawit ini dengan kompensasi satu botol aqua mineral yang harganya Rp10.000. Saya tidak tahu apakah mereka mau lanjut atau tidak. Mereka berembuk membahas biaya jasa konsultasi.

Ketika saya sedang di jalan mau pulang ke rumah terlintas di  pikiran. Kapan bisa berpikir logis dalam bisnis? Apakah kita akan begini terus? No money no business gaes.



Butuh pendanaan?
Hubungi: 0813-1141-8800





Copyright 2009-2020 putra-putri-indonesia.com


Berlangganan
Putra-Putri-Indonesia.com (Free)

Enter Your E-mail Address
Enter Your First Name (optional)
Then

Don't worry — your e-mail address is totally secure.
I promise to use it only to send you Putra-Putri-Indonesia.com.

Kontak
0813-1141-8800

Jasa Diskonto SKBDN atau BG1832

Butuh Pendanaan Proyek?