Gelar Akademis Tiga Seribu

"Tiga seribu," begitu komentar seorang teman terhadap orang yang bergelar Dr. yang bersama-sama dengan kami beberapa hari lalu di Depok. Sebut saja namanya Alex (bukan nama yang sebenarnya).

Saya tidak tahu dari mana Alex dapat gelar Dr. Mungkin gelar itu ia dapat dari institusi yang tempat kuliahnya di ruko, bukan di kampus besar yang mendapat otorisasi memberikan program Dr.

Sebelumnya, Alex gagal kuliah dari sebuah STT. Sekarang dalam kartu namanya tertera Dr. Alex S.E, M.Th, Ketua Yayasan 'Na Masa-Masai.'

readingnew

Kenalan saya yang lain, sebut saja namanya Alof, juga sudah punya gelar Dr. Ia menaruh gelar Dr.-nya di depan namanya: Dr. Alof SE, MCS. M.Div., M.Th. Kesannya ia Pencerah Zaman Now. Seorang kenalan lain memberi tahu kalau Alof yang bergelar Dr. gagal mempertahankan tesis untuk mendapatkan gelar M.Th dari sebuah STT.

Saya tertawa geli dalam hati mendengar komentar teman- tiga seribu- terhadap Alex, yang bergelar Dr. itu.

Istilah tiga seribu adalah istilah di pasar di Sumatera Utara sana saat seseorang mau membeli sesuatu atau membeli jeruk misalnya. Istilah itu pun mungkin hanya berlaku di zaman tahun 80-an, bukan di zaman now.

Dulu masih dapat 3 buah jeruk dengan uang seribu. Kalau sekarang, satu tomat berdiameter 3 cm saja harganya sudah seribu. Namun, makna istilah 'tiga seribu' itu yang membuat saya geli bahkan masih tertawa saat saya menulis artikel ini. Murahan.

Lae (sepupu) saya pernah memberi saran kepada saya untuk mengejar gelar akademis S2. Ia tahu saya senang belajar dan suka mengajar anak-anak muda dalam spritualitas. Entah kenapa saya tidak tertarik.

Saya senang belajar, tetapi tidak tergiur mengejar gelar. Saat kuliah di sekolah yang suka membahas spritualitas tingkat tinggi pun saya lebih tertarik memahami apa yang diajarkan para dosen dari pada mengejar nilai akademis sekalipun nilai akademis yang saya dapat jauh lebih bagus daripada saat kulaih di jurusan Petroleum Engineering.

Apa Arti Nilai Akademis?

Namun, apa arti nilai akademis? Saya pikir nilai itu hanya mencerminkan seberapa banyak yang diketahui saat ujian. Bisa juga nilai itu menggambarkan tingkat kecerdasan (IQ) seseorang.

Namun, milai itu tidak dapat menggambarkan pengetahuan dan pemahaman setelah berapa bulan atau beberapa tahun setelah ujian. Nilai itu bahkan tidak bisa mengukur sejauh mana seseorang dapat menerapkan apa yang dipelajari di dalam kehidupan praktis.

Kesalehan adalah salah satu tujuan belajar sedangkan kesalehan tidak selalu menuntut seseorang harus bergelar.

Charles Swindol, penulis buku Growing Strong in the Season of Life, dalam salah satu artikelnya menulis bahwa gelar akademis hanya berlaku saat wisuda. Setelah wisuda, gelar itu tidak valid lagi.

Di Amerika, hanya dosen atau professor di kampus yang layak mencantumkan gelar Dr. di depan namanya. Itupun ia harus mempunyai pekerjaan tambahan, yaitu melakukan penelitian.

Jarang orang yang bergelar Dr. di Negara Paman Sam dan menaruh gelar di depan namanya, tetapi masih bekerja di kantoran.


Beragam Keinginan Manusia

'Beragam cita-cita manusia,' kata isi syair lagu Alusi Au, yang digubah Nahum Situmorang sang legendaris dari tanah Batak itu. Ada yang ingin namanya terkenal. Ada yang ingin punya gelar Dr. agar dikagumi orang lain.

Dengan bergelar, mungkin ia lebih mudah mendapat pekerjaan mengajar di dunia pendidikan.

Ia dapat menyisihkan orang yang bergelar S2, yang sama-sama bertarung mendapat kesempatan mengajar. Ia mungkian akan diprioritaskan untuk menjadi pembicara seminar yang bayarannya lumayan menarik.

Kata-kata Confucius bisa direnungkan  kalau ada godaan untuk memiliki gelar. Confucius mengatakan, "Dulu orang belajar untuk hidup, tetapi sekarang orang belajar untuk dibanggakan."

"Bergelar, tetapi tidak berbobot- itu memalukan; tidak bergelar, tapi berbobot- itu kurang sedikit." kata Confucius lagi.

Gelar dengan julukan tiga seribu adalah gelar murahan. (JM)

LINK TERKAIT:

Salah Memilih Jurusan di Perguruan Tinggi

Apa Tujuan Hidup Anda?

Bagaimana Mencegah Stress Berlebihan?

Bagaimana Paras Wajah Anda di Dunia Akhirat?


Copyright 2009-2022 putra-putri-indonesia.com