Warna Teologi Orang Batak

Salah satu dokumen yang dapat memberikan petunjuk tentang warna teologi orang Batak adalah Buku Ende (Buku Nyanyian). Ratusan lagu-lagu rohani sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Batak.

Buku Ende versi lama berisi 556 lagu; Buku Ende edisi baru berisi 864 lagu. Masih ada karya-karya komponis besar yang diterjemahkan seperti The Great Haleluyah (Haleluya na Bolon) karya Handel, The Holy City (O Huta Na Badia) dan banyak koor lain.

Bila Buku Ende versi lama digunakan sebagai referensi, warna teologi orang Batak boleh dikatakan campuran antara Lutheranisme dan Calvinisme. Lutheranisme dikaitkan dengan nama Martin Luther, pencetus Gerakan Reformasi di abad ke 16; Calvinisme dikaitkan dengan nama John Calvin, penerus dan penegak Gerakan Reformasi untuk abad-abad selanjutnya.

Lutheranisme dan Calvinisme boleh dikatakan saudara kandung. Luther maupun Calvin merumuskan teologinya dengan memakai teologi Agustinus yang hidup di abad ke 4 dan ke-5 sebagai sumber utamanya.  Namun, dalam perkembangannya di kemudian hari, Lutheranisme mengambil arah yang berbeda dari Calvinisme.

adil_makmur

'Warna' Teologi Buku Ende

Salah satu lagu yang dipilih di artikel ini, yang menguak warna teologi orang Batak, adalah lagu Tu Dia Ho Dung Mate Ho (terjemahan: Ke mana Engkau Setelah Mati).

Ada empat bait syair lagu ini, tetapi hanya dua bait yang disajikan di sini. Syairnya begini: .

Tudia Dung Mate Ho (Ke mana Engkau Setelah Mati)

Tu dia ho, dung mate ho alusi ma alusi ma
Jempek tingkim ujung na ro
tudia ho dung mate ho dung mate ho.
Sai pingkir ma tu dia ho.

Terjemahan:

(Ke mana engkau setelah engkau mati, jawablah jawablah
Waktumu singkat akhirnya akan tiba
Ke mana engkau setelah engkau mati setelah engkau mati
Coba pikir engkau ke mana)


Ise mamilit Jesus i sai olo ho, sai olo ho
Jesus manungkun dohot ho.
Tu dia ho dung mate ho dung mate ho.
Sai pingkir ma tudia ho.

Terjemahan:

(Siapa memilih Yesus, terimalah terimalah
Jesus bertanya kepadamu
Ke mana engkau setelah engkau mati setelah engkau mati
Coba pikir engkau ke mana)

Warna Teologi Orang Batak

Syair dan melodinya bagus. Nada yang digunakan tidak lebih dari satu oktaf. Bila dinyanyikan dengan iringan piano, organ, keyboard atau gitar sekalipun, lagu ini mengingatkan tujuan akhir hidup manusia.

Tidak seperti lagu Alusia Au, gubahan Nahum Situmorang, yang juga mengulas tujuan hidup, lagu Tudia Ho Dung Mate Ho jauh lebih menyentuh. Yang menyanyikan lagu ini tidak akan larut dalam kesenangan seperti orang menyanyikan lagu Alusi Au, tetapi merangsang yang bernyanyi maupun yang mendengar untuk memikirkan destinasi akhir jiwanya.

Apa 'warna' pemikiran dibalik syair lagu Tu Dia Ho Dung Mate Ho? Syairnya kental dengan pemikiran yang antroposentris. Manusia menjadi pusat. Dari lagu Tu Dia Ho muncul kesan bahwa tujuan hidup ditentukan oleh manusia. Manusia dapat menentukan jalan hidupnya. Seseorang dapat memilih datang kepada Yesus. Apakah mau percaya atau tidak, keputusannya ada di tangan seseorang. 

Masih banyak lagu yang berwarna antroposentris- So Ma Jolo Jala Pingkir Lao Tu Dia Langka Mi, (Berhentilah dan Berpikir Kau Mau Ke mana Langkamu), Tu Jolom O Debatangku (Ke Hadapanmu Ya Tuhan), Sian Hurungan ni Dosangki (Dari Penjara Dosaku), Sai Patogu Rohangki (Teguhkanlah Jiwaku), Sai Hutagam do Tuhanku (Selalu Saya Harapkan Engkau Ya Tuhan), dan lagu-lagu lain.

Paling tidak, ada 50 lagu di Buku Ende versi lama yang kental warna antroposentris-nya.

aula-simfonia

Ciri Khas Lutheranisme: Hati Nurani

Dari mana pemikiran antroposentris ini datang? Ini muncul dari arus pemikiran Lutheranisme. Bisa jadi, sisi antroposentris itu dihubungkan dengan pengalaman Martin Luther. Luther, dalam pembelaan ke-95 tesisnya di Diet of Dorm di Era Reformasi, menggunakan istilah hati nurani. Hati nurani menjadi kunci.

"Unless I am convinced by the testimony of the Scriptures or by clear reason (for I do not trust either in the pope or in councils alone, since it is well known that they have often erred and contradicted themselves), I am bound by the Scriptures I have quoted and my conscience is captive to the Word of God. I cannot and will not recant anything, since it is neither safe nor right to go against conscience. May God help me. Amen."

("Kecuali saya diyakinkan oleh kesaksian Kitab Suci atau dengan alasan yang jelas (karena saya tidak percaya baik pada paus atau dewan saja, karena diketahui bahwa mereka sering keliru dan bertentangan dengan diri mereka sendiri), saya terikat oleh Kitab Suci telah saya kutip dan hati nurani saya terikat pada Firman Tuhan. Saya tidak dapat dan tidak akan menarik kembali apa pun, karena tidak aman dan tidak benar untuk melawan hati nurani. Semoga Tuhan membantu saya. Amin.")

Hati nurani ini akhirnya menjadi salah satu warna khas Lutheranisme.

woman-road

Apa 'Warna' Teologi Orang Batak di Masa Depan?

Dengan ditambahkannya 308 lagu ke versi Buku Ende edisi terbaru, 'warna' pemikiran di balik Buku Ende menjadi makin bervariasi- ada pemikiran yang antroposentris, teosentris, dan arus lain. Lagu berjudul Kidung Agung (Togu Au O Tuhan) misalnya, karya pendeta Stephen Tong dari arus Calvinisme, dimasukkan ke Buku Ende edisi terbaru.

Menyimak isi versi Buku Ende edisi terbaru, ada perkembangan arus pemikiran di kalangan orang Batak.

Namun demikian, masih ada pertanyaan. Ke arah mana perkembangan 'warna' pemikiran orang Batak di masa mendatang? Apakah akan bertransformasi ke arah Calvinisme, Lutheranisme atau kembali kepada pemikiran teologis dari Nommensen? 

Bagaimanapun, 'warna' pemikiran orang Batak akan menentukan 'warna' budaya Batak di masa mendatang dan kehidupan publik di mana orang Batak terlibat.

Orang Batak terlibat aktif dalam sejarah perjalanan bangsa- mulai dari gerakan-gerakan kebangsaan menuju kemerdekaan Indonesia.

Menarik melihat realitas perkembangan pemikiran di kalangan orang Batak di masa-masa mendatang.(JM)

Link Terkait:

Apa Itu Wawasan Dunia (Worldview)?

Mata Kuliah Filsafat untuk Mahasiswa, Menyongsong Indonesia Emas

Bagaimana Menyikapi Ketuhanan Yesus bagi Pemeluk Agama Non-Kristen?



Copyright 2009-2023 putra-putri-indonesia.com